Hampir semua informasi yang kita terima saat ini adalah via gadget. Apakah itu berupa berita online yang kita akses dari medsos, atau informasi yang beredar dari messenger apps yang udah jadi keseharian kita. Pernyataan ini didukung sama hasil polling cewekbanget.id.

Kita bisa melihat pada kasus berita hoax tentang Aleppo beberapa waktu lalu. Sebuah foto dengan sosok gadis kecil dengan baju berlumuran darah sedang menatap nanar. Foto tersebut berusaha menggambarkan betapa buruknya situasi di Aleppo, Suriah. Lalu, kemudian tersebar berita bahwa foto tersebut adalah hoax. Darah yang dilumuri pada gadis kecil itu adalah cat dan bukan darah beneran.

Bisa kita bayangkan perasaan setiap orang yang melihat foto tersebut dan menganggap itu adalah kejadian nyata. Akan timbul keresahan, simpati, dan ketakutan melihatnya. Ketika sebuah informasi sudah menyentuh perasaan, akan timbul perasaan untuk melakukan sesuatu tentangnya. Seseorang bisa saja menyebarkannya, mengutuk, atau mencari sosok yang bisa disalahkan. Bisa dibayangkan kalau orang ini mendapatkan banyak dukungan dan berhasil membuat sebuah gerakan sosial? Tapi kemudian gerakan tersebut didasari sama sesuatu yang enggak benar? Itulah dampak berita hoax yang sangat berbahaya.

Standford’s Education History Group melakukan survei pada 7.800 siswa yang duduk di bangku SMP hingga kuliah di Amerika Serikat (Los Angeles & Minneapolis) mengatakan:

Pada dasarnya, kita harus mengerti terlebih dahulu konsep tentang berita yang benar dan hoax.

Gimana sih, pembaca yang pintar itu?

Sadar enggak, ketika browsing, iklan yang muncul selalu sesuai sama minat kita? Misalnya, kalau kita suka sama fashion, maka iklan yang muncul akan berkenaan dengan fashion. Enggak hanya iklan, sadar enggak sih kalau postingan orang-orang di medsos, khususnya Facebook, juga sesuai sama minat kita? Ini karena sesuatu yang disebut filter bubble.

Jadi, mesin pencari informasi atau internet search engine bisa membaca karakter atau preferensi kita berdasarkan dari browsing history. Dari informasi apa yang sering kita baca, like, comment, atau share. Dari situ, engine hanya akan menyajikan informasi lainnya yang besar kemungkinannya akan kita klik. Ini yang disebut filter bubble atau gelembung filter.

Dan hasil polling cewekbanget.id soal filter bubble ini menunjukkan bahwa dari 200 anak muda Indonesia berusia 15-22 tahun,

Akibatnya buat kita yang enggak paham tentang filter bubble ini adalah, kita bisa terjebak dalam perasaan kalau pendapat kita paling benar. Misalnya gini, kita enggak suka sama Selena Gomez. Kita sering baca gosip negatif soal Selena, kita like, comment, dan share. Makin lama, informasi yang muncul di sekitar kita selalu tentang keburukan Selena. Lalu, kita juga unfollow feed atau unfriend orang-orang yang bertentangan sama kita.

Jadi ketika kita posting sesuatu yang buruk tentang Selena, followers kita banyak yang like dan setuju. Kita pun merasa pendapat kita benar karena didukung banyak orang. Padahal, secara enggak sadar kita sudah mengeliminasi informasi dan orang lain yang enggak sepaham sama kita.

Sikap merasa paling benar ini bisa berbahaya ketika ada orang yang tersinggung dan report account kita. Bisa juga lapor ke pihak pihak lain dan mengundang konflik, atau bahkan ke polisi. Sikap ini juga berbahaya ketika dibawa ke dunia nyata, Karena kita sadar kalau kenyataannya banyak banget orang yang berseberangan pendapatnya dengan kita.

Hanya karena kita sudah bisa punya dan menggunakan akun medsos saja belum cukup. Ika Natassa, penulis beberapa novel laris seperti Antalogi Rasa, Critical Eleven, dan The Architecture of Love yang juga aktif di medsos ini juga sepakat kalau sebagai pembaca media online dan pengguna medsos kita harus pintar.

Jadi pembaca yang pintar

*dengan panduan dari Uni Lubis & Ika Natassa.

Oke, sekarang mari kita uji pemahaman. Dari contoh kasus berikut ini, mana yang merupakan pembaca yang pintar atau pengguna medsos yang pintar dan mana yang enggak? Klik pembaca yang pintar.